Sabtu, 10 November 2012

PROFIL LTQ JILLUL QURAN AL-ISLAMY



LATAR BELAKANG BERDIRINYA LEMBAGA TAHFIDZ QURAN (LTQ) JILLUL QURAN AL-ISLAMY

Apabila diamati sejarah perjalanan pemeliharaan Al qur'an sejak zaman Nabi hingga sekarang terus berjalan seiring dengan perjalanan dan perkembangan sejarah umat. Tradisi pemeliharaan Al qur'an yang diwariskan Nabi kepada umatnya melalui dua cara yaitu pemeliharaan melalui hafalan (Fisshuduur) dan melaui tulisan (Fissutuur). Pemeliharaan melalui hafalan merupakan landasan utama, adapun melalui tulisan sebagai landasan pendukungya.

 JIILUL QUR’AN AL-ISLAMY merupakan suatu Lembaga Tahfidz di CIMAHI yang ikut memelihara kemurnian Al qur'an dalam hal hafalan. Lembaga ini didirikan oleh DKM Al-Islamy  Leuwi Gajah pada Tanggal 1 mei 2012. Keberadaan lembaga ini juga dalam rangka menjawab kekhawatiran semakin langkanya penghafal Al qur'an khususnya di Indonesia. Dengan sistem Talaqqi/Musyahafah, nilai tambah yang ditampilkan oleh lembaga ini adalah lahirnya para penghafal Al qur'an yang mempunyai kualitas dalam hafalan maupun bacaan.

Dasar dan Tujuan Pendidikan

Dasar dan tujuan pendidikan yang ada di Jiilul Qur’an Al-Islamy antara lain;
1. Sesuai dengan fungsi Al-Qur’an terhadap orang-orang yang bertaqwa, Jiilul Qur’an Al-Islamy sebagai suatu kelembagaan ingin membentuk dan menjadikan manusia yang muttaqin melalui Al-Qur’an.
2. Berkaitan dengan pemikiran diatas, maka apa yang dilakukan Jiilul Qur’an Al-Islamy  ini adalah semata-mata untuk memenuhi kewajiban sebagai hamba terhadap sesamanya.
3. Di Indonesia belum banyak badan dan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang lafdhon wa ma’nan dan bentuk kajiannya yang sistematik dan klasikal.
Untuk itu, Jiilul Qur’an Al-Islamy berupaya untuk mengatisipasi hal yang demikian, terutama ditekankan pada isi program pendidikan dan pengajarannya, yaitu Al-Qur’an dan khususnya dari segi qiro atnya (bacaanya).
Adapun dasar pokok dari pendidikan secara khusus di Madrasatul Qur an adalah :
1. Al-Qur’an Sebagaimana tertulis dalam surat Al-Qur’an Al-’ankabut ayat 49. Artinya: “Sebenarnya , Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata didalam dada orang-orang yang berilmu ……….:” Dimana Al-Qur’an merupakan informasi yang lengkap dan jelas, untuk menerimanya (media menerimanya) adalah dimasukkan kedalam dada, sedangkan si penerima adalah mereka yang berkredibilitas orang-orang yang berilmu.
2. Al-Hadits Artinya “Sebaik-baik kamu semua adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan yang mau mengamalkannya kepada orang lain” (HR. Bukhori).
3. Ijma’ Yang dimaksud defisini adalah Ijma’ dalam bidang metodologi pengajaran Al-Qur’an, khususnya dalam hal penerimaan dan pemakaian qiroahnya, yaitu qiro’ah shohihah mutawatiroh dengan kriteria ;
a. Sanad Mutawasshil (guru bersambung) sampai pada Rasulullah.
b. Bentuk Qiroah (bacaan)nya sesuai dengan kaidah bahasa arab.
c. Terdokumentasi didalam Mushaf Utsmani. d. Sedangkan tujuan pendidikanya adalah “Membentuk pribadi Muslim pemandu Al-Qur’an hafal lafadhnya, mengerti isi kandungannya dan mengamalkan ajarannya “Muslim Hamilil Qur an Lafdhan wa Ma’anan wa Amalan”.

Sistem Pendidikan dan Pengajaran
 Sistem pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan oleh Jiilul Qur’an adalah berbentuk Pendidikan Madrasah program pendidikan dan pengajaran Jiilul Qur’an adalah sebagai berikut:
I. Program Tahfidh (Menghafal Al-Qur’an) Program menghafal Al-Qur’an ini dibagi menjadi dua tahap/fase. fase pertama adalah menghafal Al-Qur’an dengan Qiro ah Masyhuroh dan fase dasar adalah tahap bagi mereka yang belum memenuhi syarat bacaannya untuk menghafal.

A. Qiro ah Masyhuroh
1. Syarat; Untuk mengambil program tahfidh (merangkap sekolah) mereka harus baik bacaan Al-Qur’annya sesuai dengan Qiro’ah Muwahhadah standart Madrasatul Qur an.
2. Mushaf dan Kurikulum; Mushaf yang dipakai adalah Mushaf Utsmani riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim, dengan menggunakan Al-Qur’an Pojok yang setiap halamannya terdiri dari 15 baris, dan setiap juz terdiri dari 20 halaman/10 lembar. Dari kurikulum yang telah digariskan, mereka harus sudah menyelesaikan (hafal) 30 juz selama 3 tahun.
3. Sistem Pembinaan; - Setoran hafalan; yaitu santri memperdengarkan hafalannya kepada Badal (guru/instruktur) masing-masing setiap hari. - Setoran fashahah; yaitu santri memperdengarkan bacaan atau hafalan pada Badal pembina masing-masing sesuai dengan kelompok dan jadwal yang telah ditentukan. - Mudarosah kelompok; para santri secara berkelompok (tiga-tiga) bergantian memperdengarkan hafalannya setiap hari dengan berkelanjutan sampai batas akhir hafalannya. (Mereka yang telah selesai pada program ini berhak diwisuda dengan predikat Wisudawan Qiro ah Masyhuroh (S.Q.1).

B. Tingkat Binnadhar
1. Kelompok/Tingkatan: Bagi mereka yang belum diterima untuk mengambil program tahfidh, diwajibkan untuk mengikuti program binnadhar sesuai dengan tingkat kemampuan bacaan masing-masing. Dalam pembinaannya terbagi menjadi empat tingkatan:
a) Tingkat Mubtadi’ (dasar); mereka adalah yang belum mampu membaca Al-Qur’an dan atau belum mempunyai dasar-dasar fashahah.
b) Tingkat Mutawashith; mereka yang sudah lancar membaca, dan menguasi dasar-dasar fashahah, namun belum bisa membedakan cara dan ciri masing-masing huruf dan melafadhkan.
 c) Tingkat Muntadhir; mereka sudah lancar membaca dan fashih namun kurang menguasai dalam waqof, ibtida’ serta musykilatil-ayat.
d) Tingkat Maqbul; pada tingkat ini santri tinggal menempuh Qiro ah Muwahhadah (standart Madrasatul Qur an).

2. Sistem pembinaan
a) Setoran Binnadhar pada masing-masing Badal (ustadz) yang telah ditentukan lima kali dalam seminggu sesuai dengan materi yang telah ditentukan.
b) Pembinaan fashahah secara klasikal; mereka dikelompokkan sesuai dengan kelompoknya secara klasikal, diberi pembinaan bidang fashahah (adil tidaknya dalam melafadhkan sebuah huruf) enam kali dalam seminggu dengan materi sesuai dengan tingkatannya.
c) Ujian kenaikan; dari masing-masing tingkatan pada setiap semester diadakan ujian kenaikan, khusus bagi yang maqbul bisa mengikuti khataman (wisuda) binnadhar yang diadakan setiap tahun. Bagi santri yang telah wisuda ini kemudian memasuki jenjang Tahfidh (menghafal Al-Qur’an).

 3. Lain-lain
Untuk dapat mengikuti wisuda binnadhar, disamping lulus dalam ujian seleksi, mereka juga diwajibkan/disyaratkan telah hafal juz 30, 29 dan 28 serta surat-surat tertentu (Surat Yasin, Ar Rahman dan Waqi’ah). - Bagi mereka yang tidak mengambil program tahfidh pasca wisuda binnadhar ini diwajibkan untuk sekolah dan mendalami kitab salafus-sholih. –
Program binnadhar ini ditempuh dalam dua tahun.
Kurikulum Pendidikan
1. Tahfidh (menghafal Al-Qur’an) Smtr Target Juz Perincian Jumlah Hafalan Hari Efektif 28,29,30 I 8 Juz 1 – 5 160 hlm 140 Hr II 7 Juz 6 – 12 140 hlm 140 Hr III 6 Juz 13 – 18 130 hlm 140 Hr IV 5 Juz 19 – 23 100 hlm 140 Hr V 4 Juz 24 – 27 80 hlm 140 Hr

2. Binnadhar
a. Tingkat Mubtadi’
 1. Materi bacaan/fashahah klasikal adalah surat Al-Baqarah dan Juz 30
2. Materi hafalan adalah surat Ad-Dluha – An-Nas
3. Materi fashahah/tajwid - Makharijul huruf - Mad dan Qashr. - Hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati dan nun tasydid.
4. Target capaian - Menguasai dasar-dasar fashahah. - Lancar membaca.

b. Tingkat Mutawashith
1. Materi bacaan/fashahah klasikal adalah :Ali Imron – An-Nas
 2. Materi hafalan :Juz Amma & surat-surat penting
3. Materi setoran Juz 1 – 15
4. Materi fashahah dan tajwid - Hukum bacaan Ra’ dan Lam - Tanda-tanda waqof - Ahkamul Mad dan Ukurannya.

c. Tingkat Muntadhir
1. Materi bacaan/fashahah klasikal adalah Ash-Shoffat – Adz-Dzariyat
2. Materi hafalan adalah surat-surat penting dan Juz 30, 29
3. Materi fashahah dan tajwid - Waqof ibtida’ - Musykilatul Kalimat - Hamzah Qotho’ dan Washal

4. Target capaian: - Mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan makhraj dan sifatnya - Lancar membaca d. Tingkat Maqbul - Materi Muntadhir dan hafalan juz 28.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar