LATAR BELAKANG BERDIRINYA LEMBAGA TAHFIDZ QURAN
(LTQ) JILLUL QURAN AL-ISLAMY
Apabila
diamati sejarah perjalanan pemeliharaan Al qur'an sejak zaman Nabi hingga
sekarang terus berjalan seiring dengan perjalanan dan perkembangan sejarah
umat. Tradisi pemeliharaan Al qur'an yang diwariskan Nabi kepada umatnya
melalui dua cara yaitu pemeliharaan melalui hafalan (Fisshuduur) dan melaui
tulisan (Fissutuur). Pemeliharaan melalui hafalan merupakan landasan utama,
adapun melalui tulisan sebagai landasan pendukungya.
JIILUL QUR’AN AL-ISLAMY merupakan suatu
Lembaga Tahfidz di CIMAHI yang ikut memelihara kemurnian Al qur'an dalam hal
hafalan. Lembaga ini didirikan oleh DKM Al-Islamy Leuwi Gajah pada Tanggal 1
mei 2012. Keberadaan lembaga ini juga dalam rangka menjawab kekhawatiran semakin
langkanya penghafal Al qur'an khususnya di Indonesia. Dengan sistem
Talaqqi/Musyahafah, nilai tambah yang ditampilkan oleh lembaga ini adalah
lahirnya para penghafal Al qur'an yang mempunyai kualitas dalam hafalan maupun
bacaan.
Dasar
dan Tujuan Pendidikan
Dasar
dan tujuan pendidikan yang ada di Jiilul Qur’an Al-Islamy antara lain;
1.
Sesuai dengan fungsi Al-Qur’an terhadap orang-orang yang bertaqwa, Jiilul
Qur’an Al-Islamy sebagai suatu kelembagaan ingin membentuk dan menjadikan
manusia yang muttaqin melalui Al-Qur’an.
2.
Berkaitan dengan pemikiran diatas, maka apa yang dilakukan Jiilul Qur’an
Al-Islamy ini adalah semata-mata untuk memenuhi kewajiban sebagai hamba
terhadap sesamanya.
3.
Di Indonesia belum banyak badan dan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang lafdhon
wa ma’nan dan bentuk kajiannya yang sistematik dan klasikal.
Untuk
itu, Jiilul Qur’an Al-Islamy berupaya untuk mengatisipasi hal yang demikian,
terutama ditekankan pada isi program pendidikan dan pengajarannya, yaitu
Al-Qur’an dan khususnya dari segi qiro atnya (bacaanya).
Adapun
dasar pokok dari pendidikan secara khusus di Madrasatul Qur an adalah :
1.
Al-Qur’an Sebagaimana tertulis dalam surat Al-Qur’an Al-’ankabut ayat 49.
Artinya: “Sebenarnya , Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata didalam dada
orang-orang yang berilmu ……….:” Dimana Al-Qur’an merupakan informasi yang
lengkap dan jelas, untuk menerimanya (media menerimanya) adalah dimasukkan
kedalam dada, sedangkan si penerima adalah mereka yang berkredibilitas
orang-orang yang berilmu.
2.
Al-Hadits Artinya “Sebaik-baik kamu semua adalah orang yang belajar Al-Qur’an
dan yang mau mengamalkannya kepada orang lain” (HR. Bukhori).
3.
Ijma’ Yang dimaksud defisini adalah Ijma’ dalam bidang metodologi pengajaran
Al-Qur’an, khususnya dalam hal penerimaan dan pemakaian qiroahnya, yaitu
qiro’ah shohihah mutawatiroh dengan kriteria ;
a.
Sanad Mutawasshil (guru bersambung) sampai pada Rasulullah.
b.
Bentuk Qiroah (bacaan)nya sesuai dengan kaidah bahasa arab.
c.
Terdokumentasi didalam Mushaf Utsmani. d. Sedangkan tujuan pendidikanya adalah
“Membentuk pribadi Muslim pemandu Al-Qur’an hafal lafadhnya, mengerti isi
kandungannya dan mengamalkan ajarannya “Muslim Hamilil Qur an Lafdhan wa
Ma’anan wa Amalan”.
Sistem
Pendidikan dan Pengajaran
Sistem
pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan oleh Jiilul Qur’an adalah
berbentuk Pendidikan Madrasah program pendidikan dan pengajaran Jiilul Qur’an
adalah sebagai berikut:
I.
Program Tahfidh (Menghafal Al-Qur’an) Program menghafal Al-Qur’an ini dibagi
menjadi dua tahap/fase. fase pertama adalah menghafal Al-Qur’an dengan Qiro ah
Masyhuroh dan fase dasar adalah tahap bagi mereka yang belum memenuhi syarat
bacaannya untuk menghafal.
A.
Qiro ah Masyhuroh
1.
Syarat; Untuk mengambil program tahfidh (merangkap sekolah) mereka harus baik
bacaan Al-Qur’annya sesuai dengan Qiro’ah Muwahhadah standart Madrasatul Qur
an.
2.
Mushaf dan Kurikulum; Mushaf yang dipakai adalah Mushaf Utsmani riwayat Imam
Hafs dari Imam ‘Ashim, dengan menggunakan Al-Qur’an Pojok yang setiap halamannya
terdiri dari 15 baris, dan setiap juz terdiri dari 20 halaman/10 lembar. Dari
kurikulum yang telah digariskan, mereka harus sudah menyelesaikan (hafal) 30
juz selama 3 tahun.
3.
Sistem Pembinaan; - Setoran hafalan; yaitu santri memperdengarkan hafalannya
kepada Badal (guru/instruktur) masing-masing setiap hari. - Setoran fashahah;
yaitu santri memperdengarkan bacaan atau hafalan pada Badal pembina
masing-masing sesuai dengan kelompok dan jadwal yang telah ditentukan. -
Mudarosah kelompok; para santri secara berkelompok (tiga-tiga) bergantian
memperdengarkan hafalannya setiap hari dengan berkelanjutan sampai batas akhir
hafalannya. (Mereka yang telah selesai pada program ini berhak diwisuda dengan
predikat Wisudawan Qiro ah Masyhuroh (S.Q.1).
B.
Tingkat Binnadhar
1.
Kelompok/Tingkatan: Bagi mereka yang belum diterima untuk mengambil program
tahfidh, diwajibkan untuk mengikuti program binnadhar sesuai dengan tingkat
kemampuan bacaan masing-masing. Dalam pembinaannya terbagi menjadi empat
tingkatan:
a)
Tingkat Mubtadi’ (dasar); mereka adalah yang belum mampu membaca Al-Qur’an dan
atau belum mempunyai dasar-dasar fashahah.
b)
Tingkat Mutawashith; mereka yang sudah lancar membaca, dan menguasi dasar-dasar
fashahah, namun belum bisa membedakan cara dan ciri masing-masing huruf dan
melafadhkan.
c) Tingkat Muntadhir; mereka sudah lancar
membaca dan fashih namun kurang menguasai dalam waqof, ibtida’ serta
musykilatil-ayat.
d)
Tingkat Maqbul; pada tingkat ini santri tinggal menempuh Qiro ah Muwahhadah
(standart Madrasatul Qur an).
2.
Sistem pembinaan
a)
Setoran Binnadhar pada masing-masing Badal (ustadz) yang telah ditentukan lima
kali dalam seminggu sesuai dengan materi yang telah ditentukan.
b)
Pembinaan fashahah secara klasikal; mereka dikelompokkan sesuai dengan kelompoknya
secara klasikal, diberi pembinaan bidang fashahah (adil tidaknya dalam
melafadhkan sebuah huruf) enam kali dalam seminggu dengan materi sesuai dengan
tingkatannya.
c)
Ujian kenaikan; dari masing-masing tingkatan pada setiap semester diadakan ujian
kenaikan, khusus bagi yang maqbul bisa mengikuti khataman (wisuda) binnadhar
yang diadakan setiap tahun. Bagi santri yang telah wisuda ini kemudian memasuki
jenjang Tahfidh (menghafal Al-Qur’an).
3. Lain-lain
Untuk
dapat mengikuti wisuda binnadhar, disamping lulus dalam ujian seleksi, mereka
juga diwajibkan/disyaratkan telah hafal juz 30, 29 dan 28 serta surat-surat
tertentu (Surat Yasin, Ar Rahman dan Waqi’ah). - Bagi mereka yang tidak
mengambil program tahfidh pasca wisuda binnadhar ini diwajibkan untuk sekolah
dan mendalami kitab salafus-sholih. –
Program
binnadhar ini ditempuh dalam dua tahun.
Kurikulum
Pendidikan
1.
Tahfidh (menghafal Al-Qur’an) Smtr Target Juz Perincian Jumlah Hafalan Hari
Efektif 28,29,30 I 8 Juz 1 – 5 160 hlm 140 Hr II 7 Juz 6 – 12 140 hlm 140 Hr
III 6 Juz 13 – 18 130 hlm 140 Hr IV 5 Juz 19 – 23 100 hlm 140 Hr V 4 Juz 24 –
27 80 hlm 140 Hr
2.
Binnadhar
a.
Tingkat Mubtadi’
1. Materi bacaan/fashahah klasikal adalah
surat Al-Baqarah dan Juz 30
2.
Materi hafalan adalah surat Ad-Dluha – An-Nas
3.
Materi fashahah/tajwid - Makharijul huruf - Mad dan Qashr. - Hukum nun mati dan
tanwin, hukum mim mati dan nun tasydid.
4.
Target capaian - Menguasai dasar-dasar fashahah. - Lancar membaca.
b.
Tingkat Mutawashith
1.
Materi bacaan/fashahah klasikal adalah :Ali Imron – An-Nas
2. Materi hafalan :Juz Amma & surat-surat
penting
3.
Materi setoran Juz 1 – 15
4.
Materi fashahah dan tajwid - Hukum bacaan Ra’ dan Lam - Tanda-tanda waqof -
Ahkamul Mad dan Ukurannya.
c.
Tingkat Muntadhir
1.
Materi bacaan/fashahah klasikal adalah Ash-Shoffat – Adz-Dzariyat
2.
Materi hafalan adalah surat-surat penting dan Juz 30, 29
3.
Materi fashahah dan tajwid - Waqof ibtida’ - Musykilatul Kalimat - Hamzah
Qotho’ dan Washal
4.
Target capaian: - Mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan makhraj dan sifatnya -
Lancar membaca d. Tingkat Maqbul - Materi Muntadhir dan hafalan juz 28.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar